Tak Berkategori

I was once become ‘Bridezilla’ (1)

What is bridezilla? Hmmm is she included Godzilla family? 

bridezilla1

Hmmmm… definitely NOT!! 😀

Dulu saat saya mempersiapkan rencana pernikahan saya, saya menjadi pribadi yang emosional banget. Maksudnya adalah saya jadi cemas berlebih terhadap rencana pernikahan saya, sensitif sama kritikan orang, sometimes over-excited to something, and become crybaby to small things.  I get married at the age of 22yo. Masih terbilang sangat muda karena diumur segitu biasanya orang seusia saya masih kuliah atau baru saja lulus kuliah. Daaaaan memang saat jadi bridezilla ini saya masih dalam proses menyelesaikan skripsi saya. Tapi sekarang saat posting tulisan ini saya sudah sarjana kok! 😀

Saya masih ingat banget kenapa dulu saya sensitif, karena teman-teman di usia saya belum banyak yang memiliki rencana untuk menikah. Jadi, kadang mereka belum tau gimana rasanya mempersiapkan suatu pernikahan by yourself. Dan mostly  mereka tidak tau harus bersikap bagaimana ke teman mereka yang akan menikah. Mungkin ada sebagian orang yang ngga kepikiran juga sih “Emangnya kalo temen nikah trus gw harus gimana?” tapii justru karena ngga kepikiran itu tanpa sadar bisa jadi nyakitin hati temennya tuh…  Fyi, saya ngga pakai Wedding Organizer baik dalam merencanakan pernikahan maupun saat acara berlangsung. Jadi segala sesuatunya saya urus sendiri dan dengan sedikit bantuan keluarga dekat yang dengan sukarela membantu saya. Disaat saya sibuk urus ini itu untuk wedding reception, ketemu vendor sana-sini, bulak balik Mayestik – Tanah Abang, ditambah sambil magang dan nyusun skripsi, jadilah saya menjadi bridezilla. Suka gemes aja gitu kalau ada orang yang berkomentar negatif (kenapa saya bilang negatif, karena saya rasa semua calon pengantin pasti sebal kalau ada yang nyinyir tapi sok tau);

“Nda lo yakin mau nikah muda? Duh gw sih masih pengen S2 dulu, meniti karir gw, bahagiain orangtua, blablabla”.
Emang dengan saya menikah diusia 22tahun saya jadi ngga bisa kerja gitu? Tetep bisa kok. Justru orangtua mana yang ngga bahagia kalau anaknya segera siap menikah, malah terhindar dari hal-hal yg paling ditakutkan semua orangtua dan sedikit menghilangkan beban mereka. Saya sensitif aja gitu seolah mereka mengecilkan saya dengan saya menikah saya akan terkurung di rumah cuma tunduk melayani suami. Anyway, memang sudah menjadi kodratnya seorang istri kan untuk patuh terhadap suami nya. Saya ngga ada masalah dengan hal itu tuh. Suami saya malah selalu ajak berdiskusi dalam hal apapun sebelum ambil keputusan baik untuk saya ataupun suami saya. Jadi saya sama sekali ngga merasa terkurung ataupun terbatasi (dalam konteks dilarang ini itu). Nanti yaa kalian yang ngomong “Emansipasi wanita, ngga mau ‘disetir’ laki-laki dan merasa bahwa pernikahan adalah salah satu bentuk kelumpuhan dari wanita merdeka” kita lihat nanti saat kalian menikah masih bisa ngomong gitu ngga 🙂

Kadang saya juga merasa stress karena jarang ada teman yang bisa paham dengan kondisi saya. Ya susah juga sih ya karena mereka belum pernah ada di posisi saya ini. Kalau ada yang tau film berjudul 27 Dresses. Itu film bercerita tentang seorang perempuan yang selalu dengan senang hati menjalani tugasnya sebagai bridesmaid. She was good at taking care of her friends’s wedding. Baik banget yaaah dia, karena rasanya stress loh kalau teman terdekat aja ngga bisa bantu, bikin sedih. Dan kayanya belum banyak yah yang paham betul emang “bridesmaid” itu apa. Menurut saya sih lebih dari sekedar cuma pake baju kembaran, haha hihi sana sini, dan sibuk ngerjain di bachelorette party. Akan jauuuh lebih berkesan jika kalian bisa ‘helpful’ for ur besties 🙂 Saya iseng merangkum mengenai apa saja yang menurut saya perlu diperhatikan kalau ada orang terdekat kamu yang akan menikah. Ini menurut saya loh yaaa. Hahaha, let’s give it a try;

  • Saat kamu tau teman kamu akan segera menikah, ucapkan selamat dan doakan dia! Doakan agar dia siap dalam menjalani pernikahan. Bukannya diserang pertanyaan yang malah bikin dia ragu -_-
  • Just because she is decided to get married sooner than other girls, it doesn’t mean she doesn’t think of education or even her career.
  • Before you ASSUME about her decision, listen to her perspective about marriage first.
  • I believe she has plans for her life.  And she knows what she is doing.
  • Tidak perlu berkomentar seperti menanyakan kenapa dia tidak memilih pilihan lain dengan bicara seperti; “Beb, kenapa ngga di Mulia aja sih? Atau di Ritz Carlton aja resepsinya! Biar kaya yang di instagramnya thebridedept itu loooh” Sesungguhnya resepsi pernikahan itu ngga murah dan cuma 2 jam kawan… Tabungan saya dan suami tidak mengarah kesana. Pasti teman kamu itu sudah mempertimbangkan dengan matang apa yang menjadi pilihannya tersebut, jadi tidak perlu memberi suggest yang dirasa akan menyinggung perasaannya apalagi jika berkaitan dengan budget, hehehe. Saya juga sempet penasaran sih, itu yang merayakan pesta pernikahan di Bali, tamu undangan/keluarga besar diongkosin tiket pesawat kali ya?? Ngga kebayang habis biaya berapa *tepok jidat* (Kecuali kalau teman kamu itu adalah Syahrini, ngga usah di suggest juga udah pasti di hotel mevvvah)
  • Tidak ngeyel saat diberitahu dresscode yang akan digunakan oleh bridesmaid. Udah nurut aja! Percaya deh kamu juga pasti ngga seneng kalau konsep acara kamu dirubah-rubah sama orang lain. Walaupun kamu merasa dresscode nya terlalu pasaran, dan ngga ‘one of a kind’ terima saja. Kapan lagi nyenengin temen kamu di pernikahannya?
  • Kalau kamu ada waktu coba deh hubungi si Calon Pengantin. Hanya sekedar bertanya sudah sejauh apa persiapannya. Lebih baik lagi kalau kamu bisa ikut membantu, seperti hal nya; nemenin meeting sama vendor, nemenin beli bahan seragam, bantuin nyusun undangan juga ngga apa-apa bangeeeettt! It really helpful. Sumpah. Apalagi kalau kamu ditunjuk sebagai bridesmaid. Harusnya sih bisa menjalankan tugas nya 🙂
  • Tidak perlu berkomentar (lagi) perihal misalnya seserahan. Jangan komentar yang ngomporin teman kamu dengan bilang; “Seserahan kan harus banyak. Eh lo minta toiletres nya minimal L’Occitane lah Beb. Terus tas apa gitu paling ngga Kate Spade juga ngga apa-apa. Asiiiik deh minta yang mahal-mahal dong kapan lagi kan bisa aji mumpung.” Aduh shayyy bantu beliin aja gimana? Udah ngga bantuin apa-apa bisanya komentar terus. Kalian pikiiiirr saya bayar katering pake apaaaahhhh. Esmosi sayaaaahhh.
  • Tidak perlu berkomentar (apalagi) perihal mahar. Nanya-nanya maharnya apa terus nyinyir lagiiiii adoooohhhh. Kurang-kurangin aja yah.

Selama kamu masih berpikiran seperti yang tadi saya sebutkan, pasti kamu belum menikah yaaa?? Dan bahkan mungkin memang belum siap kali yah. Karena penting dipahami, pernikahan itu ngga sebatas resepsi/perayaannya saja. Mungkin pernikahan saya masih terbilang sangat baru, tapi dari sebelum menikah saya sudah mulai belajar bahwa menikah adalah niat yang sangat mulia dan bukan sebatas ‘gengsi’ agar dilihat sempurna didepan orang lain. Mudah-mudahan semakin berkurang yaa perempuan-perempuan yang memiliki pemikiran untuk kebelet nikah hanya karena ‘gengsi’ ngeliat orang lain 🙂

 

Btw, I wrote this article for personal interest and based on my experience n people around me. This article don’t intend to offend any party yoow! *peace out*

 

(click ->) to be continued….

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s